Tuesday, 23 April 2019

Praktik Riba dalam Transaksi Emas dan Cara Menghindarinya


Berbagai keadaan yang berhubungan dengan logam mulia yang bernama emas memang tidak terlepas dari kita.  Berbagai keadaan itu seperti dalam bentuk emas perhiasan, emas batangan, emas murni ataupun emas campuran. Namun dalam praktik penjualannya baik dalam hal tukar menukar ataupun dalam penjulan emas ini berbagai praktik riba bisa terjadi. Sebelum melihat tentang praktik penjualan emas ini kita harus tahu terlebih dulu tentang riba itu sendiri.

Dalam kamus Lisaanul ‘Arab, kata riba diambil dari kata رَبَا. Jika seseorang berkata رَبَا الشَّيْئُ يَرْبُوْ رَبْوًا وَرَبًا artinya sesuatu itu bertambah dan tumbuh. Jika orang menyatakan أَرْبَيـْتُهُ artinya aku telah menambahnya dan menumbuhkannya. Kata riba itu sendiri Allah Ta’ala haramkan sesuai firman yang berbunyi:
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah…” [Q.S Ar-Ruum(Surat ke-30): 39]

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” [Q.S Al-Baqarah(Surat Ke-2): 278]

Dan yang menjadi landasan hukum tersebut Allah Ta’ala juga berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” [Q.S Al-Baqarah(Surat Ke-2): 275]

Sehingga Allah Ta’ala menjadikan hal riba tersebut menjadi sebuah larangan seperti dalam Surat Ali Imran ayat 130 Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” [Q.S Ali ‘Imran (Surat ke-3): 130]

Dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat banyak hadits yang mengharamkan riba. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ. وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya dan dua saksinya,” dan beliau bersabda, “mereka semua sama.”

Dalam hadits yang sudah disepakati keshahihannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ! وَذَكَرَ مِنْهُنَّ: آكِلَ الرِّبَا.
“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran,” dan beliau menyebutkan di antaranya, “Memakan riba.”

Riba yang ada pada jual beli emas salah satunya ada pada riba jenis fadhl seperti hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

Keenam komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk komoditi ribawi sesuai yang telah disepakati oleh para Ulama. Sehingga enam komoditi tersebut boleh diperjualbelikan dengan cara barter asalkan memenuhi syarat.
 Gambar Jual Beli Emas yang ada di Pasaran

Apa syarat yang dibutuhkan agar kita bisa terhindar dari riba fadhl itu yaitu dengan dua cara:
1.   Persyaratan pertama, transaksi harus dilakukan secara kontan (tunai). Sehingga penyerahan barang yang akan ginati atau dibarter harus terjadisaat akad barternya terjadi dan tidak bisa ditunda walaupun hanya sementara. Jika terjadi penunandaan akan jatuh ke riba nasi’ah (riba karena adanya penundaan).

2.      Tukar menukar emas dengan timbangan yang sama
Sebagaimana terdapat dalam hadits Fadholah bin ‘Ubaid Al Anshori, bahwa beliau pernah didatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat peperangan Khaibar. Fadholah ketika itu memiliki kalung yang terdapat permata dan emas. Kalung ini berasal dari ghonimah yang akan dijual. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memisahkan emas yang ada di kalung tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ

Jika emas ingin ditukar dengan emas, maka harus sama timbangannya.” (HR. Muslim no. 1591)

Lantas, bagaimana caranya agar kita dapat menukarnya menjadi timbangan yang sama. Maka kita harus menjual terlebih dahulu ema syang akan kita punya kepada toko emas dan menerima hasil penjualan emas tersebut. Setelah itu barulah kita bisa memilih emas apa yang akan kita tukar dengan penjualan tersebut. Tidak dipermasalahkan apakah kita maau membeli kembali di toko yang sama atau berbeda. Jika ingin membeli di toko yang sama maka serah terima uang hasil penjualan barulah setelah itu kita bayar kembali untuk mendapat emas jenis baru tersebut agar kita bisa terhindar dari praktik riba jual beli emas ini. 

Hal Ini berdasarkan hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi:
أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم استعمل رجلا على خيبر، فجاءه بتمر جنيب، فقال له رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: (أكلُّ تمر خيبر هكذا؟) فقال: لا، والله يا رسول الله، إنا لنأخذ الصاع من هذا، بالصاعين، والصاعين بالثلاثة، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: (فلا تفعل، بع الجمع-أي التمر الذي أقل من ذلك- بالدراهم، ثم ابتع بالدراهم جنيبا.
“Bahwasannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunjuk seseorang menjadi pegawai/perwakilan beliau di daerah Khaibar, kemudian pada suatu saat ia datang menemui beliau dengan membawa kurma dengan mutu terbaik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, ‘Apakah seluruh kurma daerah Khaibar demikian ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak, sungguh demi Allah ya Rasulullah, sesungguhnya kami membeli satu takar dari kurma ini dengan dua takar (kurma lainnya), dan dua takar dengan tiga takar, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau lakukan, juallah kurma yang biasa -maksudnya kurma yang mutunya lebih rendah- dengan uang dirham, kemudian belilah dengan uang dirham tersebut kurma dengan mutu terbaik tersebut.”
Semoga kita bisa terhindar dari praktik riba dalam transaksi emas.

Sumber:


Tuesday, 2 April 2019

Melunakkan Besi, Mukjizat Nabi Daud Alaihissalam


Besi memang memiliki sifat yang keras. Namun yang jadi keunikan dalam logam besi adalah sifatnya yang bisa ditempa karena keliatan dari besi itu sendiri. Untuk membentk besi yang a lot ini sangatlah susah karena besi memiliki Titik lebur besi 1538 °C sedangkan titik didihnya sebesar 2862 °C dan sangat susah dilakukan dalam kondisi normal. Besi juga dapat dibentuk dengan alat ataupun dengan tangan namun pada prinsipnya tetap menggunakan panas agar si besi yang akan digunakan menjadi lebih lunak dan bisa disesuaikan dengan keinginan.
Di jepang, katana (Kita menyebutnya lebih sering dengan samurai, padahal samurai itu orang yang menggunakan katana) dibuat dengan dibuat dalam waktu yang lama karena mengolah sebuah katana yang notabenenya sebuah besi dibuat dengan proses yang sangat lama dan memang harus dalam kondisi yang pemanasan yang tinggi. 
Proses Pembentukan Katana
Namun, hal yang berbeda jika dilakukan oleh para Al-Anbiya atau para nabi terutama mukjizat yang diberikan kepada Nabi Daud Alaihissalam. Nabi Daud Alaihissalam diberikan anugrah oleh Allah Subhanahuwata’ala mujizat selain memiliki suara yang merdu, Nabi Daud Alaihissalam juga mempunyai kemampuan dalam mengolah besi. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran  (QS. Saba: 10-11) yang berbunyi:
.
۞وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ مِنَّا فَضۡلٗاۖ يَٰجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُۥ وَٱلطَّيۡرَۖ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ ١٠ أَنِ ٱعۡمَلۡ سَٰبِغَٰتٖ وَقَدِّرۡ فِي ٱلسَّرۡدِۖ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ١١
10. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya
11. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan
(QS. Saba: 10-11)

Allah Subhanahuwata’ala telah membuat besi menjadi lunak untuk Nabi Daud Alaihissalam dengan membuat baju baju besi, dan juga bisa menganyam besi. Yang jadi masalah menganyam bukan sembarangan menyanyam melainkan yang dianyam adalah besi. Sehingga tidak mungkin hal yang biasa dianyam seperti besi dilakukan oleh manusia biasa. Nabi Daud Alaihissalam pandai dan mahir dalam membuat dan mengolah besi bukan karena kemampuan yang otodidak melainkan memang Allah lah yang menurunkan. Seperti yang yang dijelaskan dalam Surat Al-Anbiya ayat 80 yang berbunyi.

وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ ٨٠
80. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)
(QS Al-Anbiya: 80).

Mukjizat yang diberikan oleh Allah Subhanahuwata’ala bukanlah tanpa sebab. Selain memang karena besi sesuatu yang sangat susah untuk ditaklukkan dan dibentuk, maka Nabi Daud Alaihissalam menjadikan mukjizat ini sebagai sebuah usaha dan menjadi pekerjaan, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari pada hadits no. 1967 yaitu :
إِنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri”. [HR Bukhari no. 1967 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang makan dari hasil jerih payahnya sendiri, lalu menghubungkan pujian ini dengan menceritakan tentang Nabi Daud Alaihissallam :

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً قَطْ خَيْراً مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ .

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri”. [HR Bukhari no. 1966 dari Al Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu ‘anhu].
Jadi sangatlah mulia kita memuliakan para nabi dan rasul termasuk dalam kisah Nabi Daud Alaihissallam yang bisa melunakkan besi walaupun dengan sifat fisikanya yang luar biasa dan juga Nabi Daud Alaihissallam menggunakannya untuk makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Semoga kita yang manusia biasa seperti ini tetap terus berusaha untuk mencari makan demi sesuap nasi dan sebongkah berlian. Semoga
Sumber: